Pilpres dan Tipe Pemilih

Oleh: Irwan Siregar
(Dosen Komunikasi Politik IISIP Jakarta)

Perhelatan demokrasi be­rupa pemilihan presi­den/ wakil presiden (pilpres), pemilihan legislatif (pileg) baik pusat maupun daerah, dan pemilihan anggota Dewan Perwakil­an Daerah (DPD) usai digelar pada Rabu, 17 April 2019. Sejumlah lem­baga survei juga sudah memaparkan hasil hitung cepat (quick count), meski penentuan pemenang resmi akan ditentukan melalui rekapitulasi suara secara nasional atau real count oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Nuansa hiruk-pikuk mewarnai pesta demokrasi ini, terutama di masa kampanye. Khusus pilpres, pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bersaing secara ketat. Sepanjang masa kampanye, tensi masin-masing kubu begitu tinggi bahkan memanas, terutama ketika beradu konsep dan strategi. Terlepas siapa pasangan capres-cawapres yang akan dinyata­kan sebagai pemenang pilpres nanti, menarik mencermati tipe pemilih yang menggunakan hak pilihnya pada pemilu kali ini.

Tipe Pemilih

Tipe pemilih di Indonesia sangat beragam, karena latar belakang dan wilayah permukiman yang berbeda, terdiri atas 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Perbedaan ini dapat dilihat dari berbagai faktor, seperti faktor sosial (status, pekerjaan, pen­didikan, pendapatan, dan sebagainya). Faktor demografi (usia, gender, agama, wilayah tempat tinggal: perkotaan-hunian elite-hunian kumuh-ping­gir­an, daerah-pedalaman-pantai). Faktor budaya (bahasa, tutur kata, etnis, adat istiadat, kebiasaan, etika, moral, dan sebagainya).

Contohnya, tipe pemilih di Provinsi Aceh, dari segi suku dan agama relatif homogen, bertempat tinggal di kota kecil, perdesaan, pedalaman, dan pan­tai, serta status ekonominya cende­rung menengah ke bawah. Sangat berbeda dengan tipe pemilih di DKI Jakarta yang etnis dan agama hetero­gen, penduduknya bertempat tinggal di kota metropolitan, dan status cende­rung menengah ke atas.

Menurut Nimmo (2010) ada empat tipe pemilih, yaitu rasional, reaktif, responsif, dan aktif. Pertama, pemilih rasional biasanya aktif mencari infor­masi tentang kandidat, seperti rekam jejak, sopan santun, etika, moral. Pemilih ini juga dapat mengambil keputusan sendiri terhadap alternatif kandidat. Biasanya mereka memilih yang preferensi atau elektabilitasnya paling tinggi di antara kandidat yang ada.

Kedua, pemilih reaktif (per­ma­nen). Mereka bereaksi secara pasif dan terkondisi karena mempunyai ikatan emosi dan fanatisme kepada partai, sehingga pemilih ini relatif tetap-stabil-setia dan sangat dependen terhadap partai serta dalam waktu jangka panjang. Misalnya partisan atau anggota partai hanya memilih kandidat yang didukung partainya atau koalisi partai. Pemilih ini sangat sulit bahkan tidak bisa dipengaruhi kandidat lain.

Ketiga, pemilih responsif (tidak tetap). Mereka inper­manen, ber­ubah-ubah mengikuti waktu, peristiwa politik dan pengaruh terutama dari kandidat dan tim sukses. Ikatan me­reka ke partai lebih rasional dan tidak emosional, dan dipengaruhi faktor-faktor jangka pendek tran­saksional menyentuh hati mereka, misalnya penyediaan lapangan kerja, tidak ada PHK, diberi sesuatu, dsb.

Keempat, pemilih aktif. Mereka ini melihat suatu peristiwa dengan me­lakukan proses indikasi diri terhadap objek (yang dilihatnya), memberi makna berdasarkan interpretasinya, dan menggunakan makna itu sebagai dasar bertindak. Misalnya ketika pe­milih mencoblos pasangan A, karena dia yakin pasangan ini di­anggap lebih mampu dari pasangan lain untuk me­real­isasikan harapannya, misal­nya untuk mengu­rangi ketimpangan ekono­mi secara signifikan.

Dari keempat tipe pe­milih di atas, jika dikaitkan antara pemilu yang baru saja dilakukan—asumsinya pa­sangan 01 sebagai pemenang ber­dasar­kan hasil quick count, dengan tipe empat pemilih yang disebutkan tadi maka tipe pemilih Indonesia saat ini cende­rung perpaduan tipe rasional dan reaktif.

Rasional karena pemilih ini aktif mencari informasi tentang kandidat, seperti rekam jejak, sopan santun, etika, moral, memilih preferensi atau pasang­an calon yang elektabilitasnya paling tinggi (berdasarkan survei) di antara kandidat yang ada. Hasil survei Pilpres 2019 sampai akhir masa kam­panye, elektabilitas pasangan 01 Jokowi-Ma’ruf cenderung lebih tinggi. Misal­nya, survei Indikator elek­tabilitas pa­sang­an 01 55,4%, pasang­an calon 02 37,4%. Adapun survei Roy Morgen, pasangan calon 01 56,20%, sedangkan pasangan calon 02 43,5%. Begitu pun Alvara Research Center, pasangan calon 01 53,9%, dan pasang­an calon 02 34,7%.

Pemilih juga disebut reaktif karena terkondisi dan mempunyai ikatan emosi dan fanatisme dalam jangka panjang kepada partai, terutama PDIP, Golkar, NasDem, PKB, PPP, dan Hanura sebagai pengusung pasangan calon 01. Pemilih ini umumnya loyalis partai, dan berada pada segmen yang relatif tetap, status sosial dan pendidikannya cenderung menengah ke bawah.

Jika acuannya quick count, hasil survei sebelumnya benar terwujud dan pe­menangnya adalah Jokowi-Ma’ruf. Meskipun legalitas kemenangan masih harus menunggu real count yang akan diumumkan KPU RI pada 22 Mei mendatang. Jika diasumsikan peme­nangnya adalah paslon 01, ini berarti hasil survei tidak hanya prediksi, tapi sesuai realitas. Hal ini berbeda dengan pilpres di Amerika Serikat pada 2016 di mana elektabilitas Hillary Clinton lebih diunggulkan hingga menjelang pencoblosan, namun kenyataannya yang tampil sebagai pemenang adalah Donald Trump yang elektabilitasnya lebih rendah berdasarkan hasil survei.

Jika diasumsi­kan pemenang Pil­pres 2019 adalah Jokowi-Ma’ruf se­bagai­mana tergambar melalui quick count, tentunya rakyat Indonesia me­naruh harapan besar kepada presi­den/ wakil presiden terpilih nanti untuk mewujudkan visi-misi dan janji-janji kampanyenya kepada publik. Selain melanjutkan program-program yang sedang berjalan, fokus Jokowi adalah membangun sumber daya manusia, menciptakan lapangan kerja secara signifikan, mengurangi ketimpangan ekonomi dengan melakukan peme­rataan di segala bidang. Semoga!

  • 9
    Shares
Editor
Irwansyah
Sumber Berita
Sindo
Topik Berita

Baca Juga

WordPress › Galat

The site is experiencing technical difficulties.