10 Tim Terburuk dalam Sepanjang Sejarah Piala Dunia

Abadikini.com, JAKARTA – Dari skuat Jerman Barat yang kacau, generasi emas Inggris yang gagal, dan tim yang kebobolan 10 gol dalam satu pertandingan – Jon Spurling memilih tim terburuk yang pernah tampil di Piala Dunia seperti dilansir fourfourtwo, Rabu (13/6/2018)

1. ZAIRE (1974)

Negara pertama dari daratan gurun Sahara yang lolos ke Piala Dunia ini menjalani periode yang sulit. Setelah mendapat keberuntungan saat melawan Skotlandia, di mana mereka beruntung hanya kebobolan dua gol dalam kekalahan 2-0, Zaire menyerah melawan Yugoslavia dengan kekalahan memalukan 9-0.

Merasa terpukul oleh kekalahan itu, para pemain dipanggil oleh para petinggi tim dan memberi tahu bahwa penampilan mereka membuat Presiden Mobutu merasa malu dan mengatakan bahwa jika mereka kebobolan lebih dari tiga gol saat melawan juara dunia Brasil, mereka tidak diizinkan pulang setelah turnamen.

Tim Afrika itupun bertahan gila-gilaan saat melawan Brasil, dan hanya kalah 0-3 yang semestinya bisa disebut sebagai kekalahan terhormat. Namun dengan kebobolan 14 gol dan tidak mencetak satu gol pun dalam tiga pertandingan, Mobutu murka dan menyebut penampilan tim nasionalnya telah “mempermalukan seluruh benua”. Kejam.

2. EL SALVADOR (1982)

“Negara ini dalam penderitaan yang mendalam dan kami memiliki tekanan untuk mencoba menguranginya,” kata pemain tengah Mauricio Alfaro kepada FourFourTwo – jadi para pemain  El Salvador yang merasakan suasana perang itu pergi ke Spanyol dengan semangat yang besar.

Namun mereka hancur berkeping-keping melawan Hungaria dalam pertandingan pembuka Piala Dunia dengan dibantai 10-1 dan tetap menjadi skor terburuk yang pernah tercipta di laga putaran final Piala Dunia. Pemain pengganti Laszlo Kiss mencetak hattrick dalam tujuh menit. Bahkan perayaan gol Luis Ramirez – yang mencetak gol hiburan untuk Salvador – tidak bisa menyembunyikan rasa malu para pemain.

Setelah perombakan taktik dan kudeta terhadap manajer, El Salvador bemain luar biasa saat melawan Belgia dan Argentina yang berakhir dengan kekalahan 1-0 dan 2-0. Skor 10-1 melawan Hungaria membuat tim ini ditertawakan dunia internasional meskipun itu itu tidak terasa bagi para pemain. Banyak di antara para pemain yang dikucilkan setelah kembali ke rumah.

3. YUNANI (1994)

Setelah menjadi pahlawan nasional karna membawa Yunani lolos ke putaran final Piala Dunia pertama mereka, segalanya berubah dengan cepat bagi pelatih Alketas Panagoulias saat putaran final turnamen dimulai. Skuat Yunani yang malang itu gagal mencetak gol di USA ’94 dan momen paling berkesan dalam pertandingan mereka datang dari Diego Maradona (selebrasinya yang gila setelah finishing keren dalam kemenangan 4-0 untuk Argentina tetap menjadi salah satu momen paling terkenal di Piala Dunia) dan Daniel Amokachi yang mencetak gol kedua yang indah dalam kemenangan 2-0 untuk Nigeria.

Untuk melengkapi semuanya, Bulgaria juga berhasil menaklukkan Yunani 4-0. Panagoulias, yang memilih pemain berpengalaman daripada pemain muda untuk masuk skuatnya langsung mengundurkan diri setelah turnamen dan mengaku merasa hancur. Sebagian besar anggota skuat Yunani saat itu akhirnya tidak pernah bermain di level internasional lagi. Itulah kisah tragedi Yunani yang sesungguhnya.

4. SWEDIA (1990)

Dengan kombinasi yang berimbang dari para pemain berpengalaman seperti Johnny Ekstrom dan Roland Nilsson, serta bintang muda yang cerdas, Tomas Brolin ditambah pemain baru Arsenal, Anders Limpar, tim asuhan Olle Nordin ini diperkirakan akan menjadi kuda hitam di Italia ’90. Namun Brolin kemudian mengakui: “Kami merasa tertekan dan kami pun habis.”

Sepasang gol Careca membantu Brasil meraih kemenangan 2-0 di pertandingan pertama babak grup dan setelah Skotlandia mengalahkan Swedia 2-1, Nordin mengakui: “Mental kami terlalu rapuh.” Tidak ada laga hiburan dalam pertandingan terakhir melawan Kosta Rika ketika Hernan Medford mencetak gol kemenangan Kosta Rika pada menit ke-87.

Setelah harus pulang kampung lebih awal, Nordin bersikeras bahwa tim akan belajar dari pengalaman mengerikan mereka. Mereka memang melakukannya dan menjadi kekuatan besar di Eropa di tahun-tahun berikutnya – tetapi bukan di bawah kepelatihan Nordin, melainkan Tommy Svensson.

5. BOLIVIA (1950)

Ketika negara dari Amerika Selatan ini lolos ke Piala Dunia pertama pasca-perang di Brasil, mereka berharap untuk meraih hasil yang lebih baik daripada pendahulunya di turnamen pertama pada 1930, ketika mereka dihajar 4-0 oleh Brasil dan Yugoslavia di babak penyisihan grup.

Namun 20 tahun kemudian di Belo Horizonte, Los Altiplanicos  mempermalukan diri mereka sendiri dengan kebobolan delapan gol saat menghadapi tim yang kemudian menjadi juara turnamen, Uruguay – dan karena grup keempat hanya berisi dua tim saja, perjalanan Bolivia di Piala Dunia langsung berakhir hanya dalam satu pertandingan saja. Mungkin itu bukan hal yang buruk.

6. PRANCIS (2010)

Ini bukan hanya soal skuat Prancis yang bertabur bintang yang gagal tampil kompak dan harus meninggalkan Afrika Selatan lebih awal setelah hanya mengumpulkan satu poin di Grup A – tapi juga soal perilaku para bintang mereka yang memalukan sepanjang turnamen. Mungkin itu adalah kesalahan pelatih Raymond Domenech yang gagal mengelola para pemain yang sudah berpengalaman seperti Thierry Henry dan William Gallas secara efektif.

Pada saat turun minum dalam kekalahan atas Meksiko, striker Nicolas Anelka tampak berbicara kepada Domenech dan diduga mengatakan: “Pergi dari sini, dasar anak pelacur”. Perselisihan yang muncul setelah pengusiran Anelka dari skuat antara pemain dan  pelatih menyebabkan beberapa bintang mengancam untuk memboikot pertandingan terakhir mereka.

Meskipun akhirnya tidak terjadi, Prancis harus menelan pil pahit saat tuan rumah Afrika Selatan mengalahkan mereka dan membuat tim yang dijagokan banyak orang sebelum turnamen ini hanya duduk di urutan buncit grup mereka. Reputasi beberapa pemain dan Domenech menjadi hancur.

7. URUGUAY (1986)

Disebut oleh banyak pihak sebagai ‘Grup Neraka’, pelatih Omar Borras – yang dulunya bekerja sebagai guru olahraga – sebenarnya sudah banyak dikritik oleh publik Uruguay jauh hari sebelum turnamen. Salah satunya karena soal pemahaman taktiknya yang kurang, tetapi hubungannya dengan rezim diktator yang kekuasaannya berakhir sebelum turnamen tahun 1986 terlalu sulit untuk bisa diterima.

Dalam babak grup yang diisi Jerman Barat, Denmark, dan Skotlandia, La Celeste semakin dikritik. Setelah berhasil memaksakan hasil imbang 1-1 melawan Jerman, mereka akhirnya kalah 6-1 atas Denmark  – tetapi itu sebelum Miguel Bossio diusir keluar lapangan karena pelanggaran keras kepada Frank Arnesen.

Uruguay didenda oleh FIFA dan diancam didiskualifikasi dari turnamen jika permainan kasar mereka berlanjut. Tim asuhan Borras tidak mengindahkan peringatan tersebut dan dalam hasil imbang 0-0 dengan Skotlandia (yang membuat Uruguay secara mengejutkan lolos ke babak penyisihan), Jose Batista menekel Gordon Strachan dari belakang saat laga baru berjalan 39 detik sehingga mendapatkan kartu merah. Itu adalah kartu merah tercepat yang pernah dikeluarkan dalam pertandingan Piala Dunia.

Akhirnya, Argentina yang menyisihkan rival mereka ini di babak 16 besar dan membuat semua orang bahagia.

8. INGGRIS (2010)

Setidaknya anak asuh Fabio Capello lolos ke fase gugur Piala Dunia. Tidak seperti skuat Inggris di era Roy Hodgson pada Piala Dunia 2014. Tapi memiliki ‘Generasi Emas’ yang diperkuat para pemain seperti Wayne Rooney, Steven Gerrard, Frank Lampard, Ashley Cole dkk , membuat optimisme tumbuh sebelum turnamen digelar.

Namun optimisme itu mulai menguap setelah blunder fatal kiper Robert Green melawan AS dalam pertandingan yang berakhir imbang 1-1 dan langsung hilang seketika setelah Rooney mengecam sikap pendukung Inggris ketika ia diusir wasit dalam pertandingan yang berakhir dengan hasil imbang 0-0 melawan Aljazair. Gol Jermain Defoe melawan Slovenia membuat tim Capello lolos ke babak 16 besar melawan Jerman yang sudah bangkit.

Perasaan bahwa bencana akan datang untuk Inggris pun muncul: Inggris secara komprehensif dihancurkan oleh permainan berkelas Jerman. Pendukung Inggris mungkin bisa mengeluhkan tendangan Frank Lampard yang sudah jauh melewati garis gawang dan seharusnya bisa menyamakan skor menjadi 2-2, tetapi faktanya adalah kemenangan 4-1 untuk pasukan Jerman mencerminkan dominasi mereka di laga ini.

9. JERMAN BARAT (1982)

Tentu saja tim yang berhasil menembus babak final bukanlah tim terburuk di Piala Dunia 1982 Spanyol, tetapi dalam hal sinisme dan kurangnya sportivitas, mereka dipastikan adalah skuat paling brutal yang pernah bermain di putaran final Piala Dunia.

Pertama, ada pertandingan El Anschluss yang sangat terkenal melawan Austria. Menyusul gol Horst Hrubesch pada awal pertandingan, kedua negara puas untuk mengakhiri laga dengan skor 1-0 yang membuat kedua tim bisa lolos ke babak penyisihan babak grup kedua dengan mengorbankan Aljazair.

“Kami telah lolos, itu saja yang penting,” kata Lothar Matthaus, dengan pragmatis, yang bersama rekan satu timnya melempari para suporter yang protes denga balon air  dari jendela kamar hotel mereka. Lalu Toni ‘Harald’ Schumacher melakukan pelanggaran keras kepada pemain depan Prancis, Patrick Battiston di semifinal yang membuat pemain Prancis itu tidak sadarkan diri di lapangan. Untungnya Jerman Barat kalah 3-1 di final melawan Italia, tetapi permainan kotor mereka akan selalu diingat.

10. BRASIL (1974)

Juara bertahan Piala Dunia ini tidak tersisih lebih awal di Jerman. Bahkan mereka mencapai babak grup kedua. Ini lebih ke soal bahwa Brasil meninggalkan sepakbola indah yang mereka mainkan empat tahun sebelumnya di Meksiko dan mengadopsi pendekatan pragmatis yang jauh lebih keras dalam permainan mereka. Pelatih Mario Zagallo memperingatkan bintang-bintang yang baru muncul seperti Jairzinho dan Rivellino bahwa mereka harus menghadapi keunggulan fisik yang dimiliki tim-tim Eropa dan itu terbukti.

Brasil – tanpa Pele, Carlos Alberto, dan Tostao – meraih hasil seri dalam dua pertandingan pembuka mereka melawan Skotlandia dan Yugoslavia, 0-0, sebelum lolos ke babak selanjutnya dengan unggul selisih gol setelah menang 3-0 atas Zaire. Pertemuan mereka dengan Belanda bisa dibilang merupakan pertandingan pemanasan untuk final, dan Belanda yang diperkuat Johan Cruyff dan Neeskens yang dalam performa terbaik mereka, dengan mudah menundukkan Brasil yang bermain buruk dalam balutan seragam warna biru yang tidak seperti ciri khas mereka.

Aksi kasar bek Luis Pereira yang dikartu merah setelah menghajar Neeskens adalah pengkhianatan terhadap segala yang Pele dan rekan satu timnya lakukan empat tahun sebelumnya. (ak.fft)

Topik Berita