Analisis Pasangan Jokowi-Gatot Dinilai Mampu Raup 62 Persen Suara di Pilpres 2019

abadikini.com, JAKARTA – Dalam hasil survei terbaru Indo Barometer yang dirilis awal pekan ini, nama Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo masuk menjadi salah satu tokoh yang banyak dikehendaki publik.

Bahkan, Gatot pun menduduki ranking kedua calon terkuat yang didukung masyarakat untuk mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 mendatang.

Tapi, bagaimana jika ia benar-benar menjadi cawapres Jokowi? Apa yang terjadi?

Nah, berdasarkan penelusuran hoki atau keberuntungan dan peluang antara kedua nama tersebut, ternyata memberikan hasil yang cukup positif.

Ahli Restrukturisasi Nama, Ni Kadek Hellen Kristy pun menerawang kecocokan nama Jokowi yang lahir 21 Juni 1961 dan Gatot yang lahir pada 13 Maret 1960.

Alhasil, keduanya memiliki kecocokan hingga mencapai angka 62 persen. Artinya, keduanya cocok dan harmonis untuk membangun kemitraan.

“Kombinasi yang kuat dari kepandaian Gatot Nurmantyo dan semangat besar dari Joko Widodo ini tetntu modal utama untuk mencapai prestasi besar,” katanya, Selasa (5/12/2017).

Perempuan yang akrab disamap Heleni ini menambahkan, Jokowi-Gatot bisa sangat harmonis nantinya.

Syaratnya, pasangan tersebut memperhatikan kecepatannya dari waktu ke waktu dan saling pengertian satu sama lain. Keduanya juga dinilai ramah dan pandai.

“Terlepas dari tidak terkontrolnya karakter Gatot Nurmantyo, sifatnya orisinal bebas dan konstruktif. Sedangkan Joko Widodo ambisius serta bersemangat. Mereka bisa menjadi tim yang suskes,” ungkap Heleni.

Heleni menambahkan, keduanya merupakan pekerja yang tidak kenal lelah dengan kemampuan beradaptasi yang tinggi.

Khusus sosok Joko Widodo, berdasarkan nama dan tanggal lahir, mantan Gubernur DKI Jakarta itu memang dikaruniai kemampuan luar biasa dalam bidang manajemen di setiap area kehidupan, khususnya di bidang bisnis dan keuangan.

BACA JUGA   Pesimistis soal Ekonomi, Kader Gerindra Ini Anggap Jokowi Tak Realistis

Soal kemungkinan Joko Widodo untuk terpilih lagi sebagai presiden, sebut Heleni, masih terbuka lebar asal jangan lagi memakai nama Jokowi.

Ia pun menyarankan menyarankan media menyebutnya dengan nama lengkap Joko Widodo saja.

Alasannya, panggilan Joko Widodo itu bertujuan agar tidak banyak menarik hal-hal negatif.

“Bisa saja peluangnya bagus, namun dari sisi nama pakai Joko Widodo saja. Namanya sudah bagus. Saran saya pakai nama Joko Widodo, itu peruntungannya nyaris sempurna,” jelas Heleni.

Untuk diketahui, dari hasil survei terbaru Indo Barometer awal pekan ini menyebut Gatot menjadi salah satu pesaing potensial untuk menjegal Jokowi di Pilpres 2019.

Meski tak cukup signifikan, Gatot ternyata memiliki basis pemilih yang cukup besar meski masih kalah jauh dibanding Jokowi.

Dalam pertanyaan terbuka, awareness pemilih memberikan 34,9 persen dukungan kepada Jokowi, disusul Prabowo Subianto dengan 12,1 persen.

Sementara Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama dan Gatot Nurmantyo hanya berada di kisaran tiga persen saja.

Namun, jika disimulasikan menjadi cawapres, Gatot ternyata berada di urutan kedua teratas setelah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Keduanya pun mengalahkan nama-nama sepeerti Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Kepala BIN Budi Gunawan, Menkeu Sri Mulyani, Walikota Bandung Ridwan Kamil, Ketua Umum HKTI Moeldoko dan Menteri PMK Puan Maharani.

AHY sendiri didukung 17,1 persen responden, sedangkan Gatot ditopang 15,9 persen. (gubr.ak/dc)

Topik Berita

Baca Juga